Minggu, 28 November 2010

Jurnalisme Dunia Maya

Tak bisa dipungkiri lagi bahwasanya teknologi makin hari akan selalu berkembang, dan penggunaannya pun semakin luas. Salah satu produk teknologi yang sampai saat ini masih bertahan menjadi ‘kebutuhan’ manusia dalam beragam aktifitas adalah internet (international network). Meski awal penggunaannya untuk kepentingan militer, namun pada perkembangan selanjutnya internet seakan ‘meledak’ dan menarik perhatian segala golongan untuk dikembangkan dan difungsikan secara luas. Dan berkat banyaknya pihak pengembang maka umur internet bisa dikatakan tak akan pernah mati.

Imbas fenomena internet juga berkait erat dengan bidang lainnya, beberapa contoh misalnya dunia bisnis dengan munculnya e-Commerce dan PayPal, dunia pendidikan dengan lahirnya e-Learning, dunia kriminalitas dengan berkembangnya CyberCrime dan CyberLaw, dan tentunya dunia jurnalistik dengan adanya CyberJournalistic. Khusus pada dunia kepenulisan, kelahiran internet seakan menjadi media baru yang sarat keunikan. Beberapa karakter media internet yang tidak dimiliki media jurnalistik lainnya adalah:

  1. Daya akses global, internet seakan membawa tulisan kita ‘mendunia’ karena tidak ada batasan kewarganegaraan dan teritorial dalam pemanfaatan internet (anyone, anytime and anywhere).
  2. Interaktifitas yang tinggi, yakni berkat pengguna yang satu sama lain saling terhubung dan bisa saling berkomunikasi. Situs www.internetworldstats.com menyebutkan bahwa total pengguna internet dunia diestimasi hingga September 2009 mencapai 1,7 milyar atau lebih dari 25% dari total penduduk di muka bumi. Sedang pengguna internet di Indonesia mencapai angka 30 juta pengguna.
  3. Bervariasinya fitur-fitur di internet. Mulai dari layanan email, search engine, chatting, weblog, Wikipedia, social network, online discussion forum, news site, free file hosting, file transfer, smart search engine, dan lain sebagainya.
  4. Merupakan teknologi yang cepat berkembang. Sampai saat ini teknologi web mulai merambah ke generasi Web 3.0 setelah generasi Web 1.0 dan Web 2.0. Ada beberapa pendapat tentang definisi Web 3.0, diantaranya adalah “teknologi pengaksesan broadband secara mobile sampai kepada layanan Web berisikan perangkat lunak bersifat on-demand “(John Borland, 2007). Pendapat lainnya yaitu “sekumpulan teknologi yang menawarkan cara baru yang efisien dalam membantu komputer mengorganisasi dan menarik kesimpulan dari data online” (John Markoff, 2007).

Sejauh ini, internet jika dikaitkan dengan perkembangan dunia jurnalisme akan sangat berkaitan erat, akan tetapi yang dipaparkan di sini hanya pada ruang bahasan internet sebagai wadah belajar dan publikasi karya tulis. Sepengetahuan penulis beberapa media CyberJournalistic adalah seperti berikut:

  1. Mengelola Blog. Istilah asli Blog adalah Weblog, perpaduan dari kata Web dan Log. Sehingga istilah Weblog akan bermakna suatu catatan (Log) dalam dunia internet (Web). Dengan mengelola Blog seakan-akan seorang Blogger memiliki surat kabar/majalah pribadi yang bisa dimodifikasi dan dipublikasikan sesuai keinginan. Dalam Blog terdapat fasilitas comment yang bisa menampung opini pengunjung (guess) suatu Blog, sehingga akan terjadi diskusi dan perbincangan tentang tulisan di Blog tersebut. Fasilitas Blog lainnya adalah Blog Archieve, Tags, RSS Feed, SiteMeter, ShoutBox, BlogRoll. Urgensi mengelola Blog bagi seorang penulis sangat tinggi, apalagi saat ini Blog Competition (kompetisi Blog) semakin banyak bermunculan. Diantara penyedia layanan Blog adalah blogger.com, wordpress.com, multiply.com, dan uinblogger.com.
  2. Aktif di situs social network (facebook.com, twitter.com, indoface.com, temankuliah.com, myspace.com ). Pemakaian situs social network selain sebagai media perjalinan pertemanan dan relasi, juga bisa sebagai media pembelajaran kepenulisan yang efektif. Hal ini disebabkan situs social network juga menyediakan tambahan fasilitas, seperti sejenis pembuatan Notes (catatan), Group, Pages, dan lainnya. Akan terbuka ruang-ruang jurnalisme dan interaktifitas dari diskusi apresiasi karya tulis tersebut. Apalagi ditemukan banyak dari tokoh/ahli bidang tertentu yang juga tergabung dalam jalinan social network.
  3. Menjadi anggota komunitas jurnalisme online. Dalam hal ini bisa berupa keanggotaan dalam situs berupa forum diskusi maupun dalam milist (mailing list). Diantara komunitas jurnalisme online adalah majalah Annida online dan Forum Lingkar Pena online.

Sehingga, kaum intelektual kampus, baik mahasiswa maupun dosen sepatutnya memiliki ‘rumah’ di dunia maya sebagai media kepenulisan pribadi. Selain itu, juga mencari banyak kenalan/relasi dalam hal kepenulisan. Maka peluang peningkatan mutu tulisan akan menjadi besar. Dan yang tak kalah penting adalah motivasi menulis bisa tetap terpelihara.

Saatnya menunjukkan eksistensi diri dalam berkarya tulis dalam dunia cetak dan dunia maya.

[Alhamdulillah dimuat di Suara Akademika UIN Maliki Malang]

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More