The Art of 'Paper Management'

Pernah pusing pas ngeliat kertas berserakan di kamar kita ???!!... .

“Laskar Programmer” UIN Maliki Malang

GEMA-Satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Maliki Malang kaya akan kreatifitas...

The Next Generation of Superhero, is Us!

“Terkisah pada suatu malam yang kelam. Kala itu, semua penduduk bumi sedang terlelap. Jalanan sunyi....

WCU Itu 'Wong Cilik University' kan?

Maaf, tulisan ini hanya sebagai teman ngobrol saya aja.. Bukan utk tujuan aneh tertentu, karena isinya pasti tak berasa ilmiah dan minim kata-kata yang keren....

Harta, Tahta, Wanita, dan ............??

Duet dunia nyata dan dunia digital semakin intim saja. Dunia nyata semakin bergantung pada dunia cyber, dan dunia cyber kian kompleks....

Minggu, 09 Mei 2010

Free Download Modul Multimedia Pembelajaran dengan Flash dan PowerPoint

Berikut modul (sederhana) yang bisa didownload:

1. FLASH sebagai Media Pembelajaran

2. POWERPOINT sebagai Media Pembelajaran

3. POWERPOINT sebagai Media Pembelajaran (slide)

Mohon kritik, saran dan masukannya...

JACP (Jangan Asal Copy Paste)

Satu lagi gerakan moral di dunia cyber. Sebuah gerakan yang ingin memberi pencerahan ttg Paham COPAS. Gerakan ini saya temukan di blognya pak Rane Hafied di http://anotherfool.wordpress.com/jacp/. Sangat menarik, karena gerakan ini juga ditujukan untuk saling bersilaturahim antar blogger sekaligus menyolidkan dunia mereka.

Berikut inti dari ajakan informal ini:
“JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?”

Dan adanya himbauan utk menambah image di blog kita, seperti ini:

Dan, ada juga yang KONTRA terhadap gerakan ini.Ada yg berpendapat COPAS merupakan proses pembelajaran dan jalan kebaikan seseorang. Sebuah argumentasi dari mas/pak Wahyudi Hermawan yg menarik tuk qta simak, kurang lebihnya sperti berikut:

“Hak paten adalah bentuk penghargaan kontan di dunia. Saudaraku… berhentilah merasa bahwa saya telah menciptakan sesuatu….saya ingin sesuatu dari apa yang telah saya buat…. biarkan saja Pencipta Sejati yang memberikan penghargaan untuk kita…. jangan takut di copy paste….jangan takut di bajak…. jangan takut orang mengambil keuntungan dari apa yang kita buat…. karena kita tak akan bisa membuat kalau tidak di buat…karena kita tak akan bisa mencipta kalau tidak diciptakan….. Ketika mereka mencantumkan nama kita sebagai pemikirnya….itu hanyalah penghargaan yang tak seberapa, ketika mereka mencantumkan nama mereka atas karya kita itu juga bukan sebuah pencurian ide…. semakin banyak orang merasakan manfaat dari apa yang kita berikan maka akan semakin besar royalti yang kita dapatkan di kehidupan nanti. Jangan lagi takut dibajak…jangan lagi takut dicuri ….jangan marah kalau pemikiran kita menjadi tidak berlabel kita….karena ketahuilah Allah tahu atas apa yang telah kita beri dan dedikasikan….. “

Nah, kalo saya sih setuju kedua-duanya dalam hal tertentu. Kalo qta sebagai piha peng-COPY sebaiknya dicantumkan referensinya dan disertai dengan pemahaman yg sungguh terhadap materi yang dicopy. Juga dalam hal-hal tertentu sebaiknya di tambahi dengan penyempurnaan dan opini kita. Dan kalo kita sebagai pihak yang di-COPY, maka niatkan utk beribadah dan beramal sholeh pada sesame, juga utk menyebarkan pemahaman kita. Kalo mereka menyertakan sumber dari kita, alhamdulillah dan kalo tidak juga tak jadi permasalahan. Yang penting kita terus berkarya.

Nah, bagaimana dgn temen-temen? Lebih setuju dengan Faham JACP (sbg apresiasi ide/gagasan & silaturahim) atau lebih setuju dgn Faham COPAS (sbg pembelajaran dan ibadah)??

Digitalisasi Kampus

Semoga bisa menuai gagasan-gagasan berkah….

Kalo kita sejenak membaca sejarah bencana alam di Nusantara, maka akan ada link ke dunia Information n communication technology (ICT) atau TIK. Misalnya pasca Tsunami di NAD, betapa banyak informasi berharga dan penting yang hilang. Sebut saja dokumen kepemilikan tanah, ribuan ijazah pelajar, surat ukur, obligasi, dll yang sebagian besar masih berbentuk dokumen cetak dan tidak ada backupnya. Bisa dikatakan peradaban informasinya bisa ikut musnah bersama raga fisiknya. Apakah solusinya??

Dan yang berikut juga penting, ada tiga elemen ICT yang saling melengkapi yakni hardware, software dan brainware (programmer, admin, analys, user). Hardware yg tanpa isi dan manusia maka menjadi seonggok benda mati yang tak berguna, software tanpa wadah dan pengguna maka akan seperti jiwa tanpa raga, dan manusia yang tak punya apa-apa, yaaa… jadilah manusia cacat yg tak mampu berbuat apa-apa.

Hal ini akan terkait dengan security/keamanan sistem. Entah kita memakai sistem informasi digital maupun sistem berbasis kertas (system based paper), jika tidak dijalankan oleh manusia yang shiddiq (jujur) dan fathonah (cerdas) maka akan sama-sama mengundang kerugian. Ancaman cracker tidaklah menjadi perkara besar jika sistem dihandle oleh orang cerdas dan jujur, bahkan bisa akan ‘terlalu’ bermanfaat…sipp…!

Dan lagi, ukhuwah (baca: integrasi) file dalam manajemen informasi tingkat pusat bisa lebih efektif jika bentuk informasinya seragam dan terhubung.

Satu hal lagi, terkait bidang Research and Development (R&D) (khususnya bidang teknologi) ada yang bilang bisa mempercepat proses kemandirian. Sebagai contoh, Sebuah Perusahaan Industri Telematika China (Hwuawei) bahkan mengalokasikan dana R&D ini lebih dari 60 % dari total pendapatan yang mereka miliki. Dalam waktu kurang dari 1 dekade seluruh teknologi terbaru telematika berhasil mereka kuasai.

Dan akan lebih mantab lagi jika objek R&D ini dimulai dari lingkungan sekitar kita dulu. Dengan harapan lingkungan kita tersebut tidak melulu menjadi target pasar teknologi, harus ada saatnya kita menjadi trendsetter dan produsen teknologi.

Maka akhirnya, teknologi hanyalah sebuah solusi berbentuk tools dan system yang tak akan mengubah karakter dan jati diri pemakainya. Bahkan jati diri bisa hilang jika manajemen informasi dikelola tdk secara professional dan terpadu. Serta untuk menghadapi tuntunan menjadi Masyarakat Informasi Global, maka langkah persiapannya tak lain adalah merampungkan kemandirian teknologi, betul...??

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More